KEMATIAN SEBAGAI NASIHAT

KEMATIAN SEBAGAI NASIHAT

KEMATIAN SEBAGAI NASIHAT

Oleh: Ali Nurdin

 

Selama pandemi, hampir setiap hari kita mendengar berita kematian. Grup-grup Whatsapp ramai dengan ucapan belasungkawa. Acara yasinan dan tahlilan dilakukan secara virtual untuk mendoakan mereka yang wafat. Bagaimana kita menghadapi berita kematian ini?

Kematian itu sesuatu yang pasti terjadi dan terjadinya kematian tidak kita sadari. Inilah kelalaian kita tidak ingat mati, yang diingat urusan dunia. Cukuplah kematian sebagai nasihat dan menjadi pengingat buat kita semua.

Rasulullah bersabda, cukuplah kematian sebagai nasihat”. (HR. Baihaqi).

Dalam ayat berikut, Al-Qur’an menyebut datangnya kematian dengan dua kali penegasan. Allah berfirman:

 

ثُمَّ إِنَّكُمْ بَعْدَ ذَٰلِكَ لَمَيِّتُونَ

“Kemudian, sesudah itu, sungguh kamu sekalian

benar-benar akan mati”. (QS. Al-Mu’minun [23]: 15)

Ayat di atas menegaskan tentang kematian dengan ungkapan “sungguh” dan “benar-benar”. Penegasan tersebut diulang karena kita sering kali lalai untuk urusan akhirat dan lebih banyak memikirkan urusan dunia. Untuk urusan kematian seringkali lalai padahal tidak ada jaminan kita besok masih hidup,

Allah sudah mengingatkan dalam firman-Nya:

 

يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ

“Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai”. (QS. Ar-Rum [30]: 7)

 

Perlu kita ingat bahwa kematian itu merupakan awal dari kehidupan yang baru.

Menurut Al-Qur’an, kematian terjadi dua kali begitu juga dengan kehidupan terjadi dua kali.

 

كَيْفَ تَكْفُرُونَ بِاللَّهِ وَكُنْتُمْ أَمْوَاتًا فَأَحْيَاكُمْ ۖ ثُمَّ يُمِيتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيكُمْ ثُمَّ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

“Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali,

kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan”. (QS. Al- Baqarah [2]: 28)

 

قَالُوا رَبَّنَا أَمَتَّنَا اثْنَتَيْنِ وَأَحْيَيْتَنَا اثْنَتَيْنِ فَاعْتَرَفْنَا بِذُنُوبِنَا فَهَلْ إِلَىٰ خُرُوجٍ مِنْ سَبِيلٍ

“Mereka menjawab: “Ya Tuhan kami Engkau telah mematikan kami dua kali dan telah menghidupkan kami dua kali (pula), lalu kami mengakui dosa-dosa kami.

Maka adakah sesuatu jalan (bagi kami) untuk keluar (dari neraka)?”. (QS. Ghafir [40]: 11)

Bagi orang beriman yang wafat, kematian itu merupakan hal yang membuat bahagia karena dengan kematian, balasan yang telah dijanjikan akan menjadi kenyataan. Namun, bagi keluarga yang ditinggalkan merupakan musibah sehingga ketika datang musibah ini kita diperintahkan untuk mengucapkan doa, innalillaahi wa innaa ilaihi raajiuun, sebagaimana firman-Nya:

الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

“(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”. (QS. Al-Baqarah [2]: 156)

Setiap kita siap atau tidak siap pasti akan menemui kematian, tinggal menunggu jadwal panggilan. Kematian tidak bisa dihitung mundur, maka siapkanlah amal shaleh dan hindari perbuatan maksiat dan dosa untuk mendapat kehidupan hasanah (baik).

 

Jika ada berita kematian sebenarnya itu menjadi pengingat bagi kita untuk senantiasa ingat bahwa di kehidupan akhirat akan ada balasan dari setiap perbuatan kita di dunia. Setelah kematian dan kita dihidupkan kembali, amal kebaikan dan amal keburukan akan ditimbang. (Lihat QS. Al-Zalzalah [99]: 7-8)

Amal kebaikan tidak perlu dipamerkan karena amal kebaikan itu hanya untuk Allah. Tetapi jika amal kebaikan itu dalam rangka untuk syiar Islam maka tidak masalah dalam rangka untuk disyiarkan.

Komentar ditutup, tapi trackbacks dan pingback terbuka.