HAKIKAT HARTA DALAM AL-QUR’AN

HAKIKAT HARTA DALAM AL-QUR’AN

HAKIKAT HARTA DALAM AL-QUR’AN

Oleh: Dr. Ali Nurdin, MA

Al-Qur’an memberikan penjelasan tentang kehidupan dunia dan isinya. Ada banyak ayat Al-Qur’an yang menjelaskan tentang kehidupan dunia khususnya dalam masalah harta. Harta biasanya dalam bahasa Al-Qur’an disebut dengan al-Maal dalam bentuk tunggal dan kadang disebut dengan amwaal dalam bentuk jamak. Harta dalam Al-Qur’an disebut sebagai pokok kehidupan (qiyaaman) seperti dijelaskan dalam ayat berikut:

وَلَا تُؤْتُوا۟ ٱلسُّفَهَآءَ أَمْوَٰلَكُمُ ٱلَّتِى جَعَلَ ٱللَّهُ لَكُمْ قِيَٰمًا وَٱرْزُقُوهُمْ فِيهَا وَٱكْسُوهُمْ وَقُولُوا۟ لَهُمْ قَوْلًا مَّعْرُوفًا
Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan. Berilah mereka belanja dan pakaian (dari hasil harta itu) dan ucapkanlah kepada mereka kata-kata yang baik.(An-Nisa’ [4]: 5)

Ayat tersebut berbicara tentang harta yang dijadikan dijadikan maskawin. Maskawin (mahar) sebaiknya berupa materi karena merupakan simbol pokok kehidupan, bukan memberikan maskawin (mahar) dengan perangkat alat shalat. Pemberian perangkat alat shalat hanya tradisi yang terjadi di Indonesia, karena masyarakat kita lebih menyukai symbol sebagai sebuah tradisi. Pemberian maskawin (mahar) sebaiknya jangan dibayar hutang tetapi sebaiknya tunai.

Baca juga: VISI-MISI HIDUP SEORANG MUSLIM

Harta juga merupakan Amanah yang dikuasakan kepada kita. Karena itu, menafkahkan sebagian harta kita adalah wujud sikap amanah terhadap harta. Allah memberikan perhatian khusus tentang hal ini seperti yang disebut dalam ayat ini:

ءَامِنُوا۟ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَأَنفِقُوا۟ مِمَّا جَعَلَكُم مُّسْتَخْلَفِينَ فِيهِ ۖ فَٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مِنكُمْ وَأَنفَقُوا۟ لَهُمْ أَجْرٌ كَبِيرٌ
Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan nafkahkanlah sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya. Maka orang-orang yang beriman di antara kamu dan menafkahkan (sebagian) dari hartanya memperoleh pahala yang besar. (QS. Al-Hadid [57]: 7)

Ayat di atas menjelaskan bahwa harta adalah pusaka manusia dan pemilik harta itu hakikatnya adalah Allah. Tugas kita mendistibusikan harta kepada yang membutuhkan.

Selain itu, harta juga disebut sebagai cobaan sebagaimana disebut dalam ayat berikut:

وَٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّمَآ أَمْوَٰلُكُمْ وَأَوْلَٰدُكُمْ فِتْنَةٌ وَأَنَّ ٱللَّهَ عِندَهُۥٓ أَجْرٌ عَظِيمٌ
“Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (Al-Anfal [8]: 28)

Seberapa besar harta yang kita dapatkan harusnya juga berbanding lurus dengan sikap kita untuk semakin besar dalam berinfak. Harta dijadikan cobaan karena dengannya manusia bisa menjadi mulia atau hina. Manusia bisa berpredikat mulia kalau menggunakan hartanya di jalan kebaikan dan sebaliknya manusia bisa jatuh ke dalam lembah kehinaan karena sombong dengan harta yang dimiliki.

Komentar ditutup, tapi trackbacks dan pingback terbuka.