TELADAN RASULULLAH DALAM MENYIKAPI KEBURUKAN

TELADAN RASULULLAH DALAM MENYIKAPI KEBURUKAN

TELADAN RASULULLAH DALAM MENYIKAPI KEBURUKAN

Oleh: Ali Nurdin

Salah satu karakter orang yang cerdas atau dalam istilah Al-Qur’an ulul albab ialah orang yang mampu membalas suatu kejahatan dengan perbuatan baik. Sebagai teladan bagi seluruh ummat, karakter ini melekat dalam diri Rasulullah SAW.

Mengambil pelajaran dari kematian tokoh munafik Abdullah bin Ubay bin Salul. Berkali-kali Al-Qur’an menunjuk orang ini sebagai sosok kontroversi dalam tutur kata dan perbuatannya yang merugikan Islam dan kaum muslim. Hampir setiap ada fitnah yang menimpa kaum muslim di Madinah selalu ada peran Abdullah bin Ubay sebagai provokatornya, bahkan peristiwa haditsul ifki, berita palsu yang menimpa Ummul Mukminin, Aisyah RA, Al-Qur’an mengisyaratkan Abdullah bin Ubay sebagai pembesar yang mengendalikannya.

Tahun ke 9 Hijriyah, sepulang Rasulullah SAW dari perang Tabuk, di akhir bulan Syawwal, Abdullah bin Ubay menderita sakit. Mendengar Abdullah bin Ubay sakit, Rasulullah SAW menyempatkan diri untuk membesuknya. Usamah bin Zaid bercerita, “Saya bersama Rasulullah SAW mengunjungi Abdullah bin Ubay yang sedang sakit untuk membesuknya. Rasulullah SAW mengingatkan Abdullah bin Ubay, ‘Bukankah saya sudah melarang kamu dari dahulu agar tidak mencintai orang-orang Yahudi?’ Abdullah bin Ubay menjawab sekenanya, “Dulu Sa’d bin Zurarah membenci orang-orang Yahudi, kemudian ia mati.’”

Rasulullah SAW tidak kehilangan sisi kemanusiaan yang bermartabat meskipun kepada orang yang ia ketahui dari Allah SWT sebagai pembuat masalah dan penebar fitnah di dalam barisan kaum muslim. Secara lahiriah Abdullah bin Ubay menunjukkan dirinya sebagai seorang muslim, sehingga ia berhak mendapatkan hak keislaman itu dengan dibesuk ketika sakit.

Pada bulan kerikutnya, bulan Dzulqa’dah, Abdullah bin Ubay wafat. Anak lelaki Abdullah bin Ubay, yang bernama Abdullah bin Abdullah bin Ubay datang menemui Rasulullah SAW untuk meminta salah satu kain Rasulullah SAW agar dijadikan sebagai kain kafan bagi Abdullah bin Ubay, ayahnya. Rasulullah SAW mengabulkan permintaan itu dan memberikan kainnya kepada Abdullah bin Abdullah bin Ubay untuk menjadi kafan bagi jenazah ayahnya. Selain itu, Abdullah bin Abdullah juga meminta agar Rasulullah SAW berkenan datang menshalatkannya.

Atas permintaan Abdullah, Rasulullah SAW datang untuk menshalatkan jenazah itu. Ketika Rasulullah SAW berdiri hendak menshalatkannya, Umar bin Khathab menarik baju Rasulullah SAW dari belakang sambil berkata, “Rasulullah! Engkau akan menshalatkannya? Bukankah Allah SWT melarangmu untuk menshalatkannya?”

Rasulullah SAW menjawab, “Sesungguhnya Allah memberikan kepadaku dua pilihan: ‘Kamu memohonkan ampun bagi mereka atau tidak kamu mohonkan ampun bagi mereka (adalah sama saja). Kendatipun kamu memohonkan ampun bagi mereka tujuh puluh kali, namun Allah sekali-kali tidak akan memberi ampunan kepada mereka. Yang demikian itu adalah karena mereka kafir kepada Allah dan RasulNya. dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik’. (QS. At-Taubah [9]: 80), dan saya akan menambahnya lebih dari tujuh puluh kali.”

Umar berkata, “Sesungguhnya dia itu orang munafik”.

Setelah Rasulullah SAW menshalatkannya, barulah turun ayat:

وَلَا تُصَلِّ عَلَىٰ أَحَدٍ مِنْهُمْ مَاتَ أَبَدًا وَلَا تَقُمْ عَلَىٰ قَبْرِهِ ۖ إِنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَاتُوا وَهُمْ فَاسِقُونَ

Dan janganlah kamu sekali-kali menyembahyangkan (jenazah) seorang yang mati di antara mereka, dan janganlah kamu berdiri (mendoakan) di kuburnya. Sesungguhnya mereka telah kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka mati dalam Keadaan fasik”. (QS. At-Taubah [9]: 84)

Rasulullah SAW menshalatkannya ketika itu karena memperlakukannya secara zahir, yaitu pengakuan Abdullah bin Ubay bahwa ia seorang muslim. Islam mengajarkan ummatnya untuk memperlakukan manusia sesuai dengan kondisi zahirnya, urusan hati dan batinnya adalah kewenangan Allah SWT. Bisa juga dimaknai bahwa Rasulullah SAW menshalatkan Abdullah bin Ubay – tokoh munafik itu- untuk menghormati anaknya, Abdullah bin Abdullah bin Ubay, yang merupakan salah satu sahabat mulia. Sedangkan pemberian kain Rasulullah SAW sebagai kain kafan Abdullah bin Ubay bisa difahami sebagai pembuktian karakter Rasulullah SAW yang tidak pernah menolak permintaan siapapun selama Beliau memilikinya. Bisa juga difahami bahwa Rasulullah SAW tidak pernah melupakan kebaikan Abdullah bin Ubay –tokoh munafik itu- di samping keburukannya yang tidak terhitung.

 

Komentar ditutup, tapi trackbacks dan pingback terbuka.