MENJALANI HIDUP DENGAN OPTIMIS

MENJALANI HIDUP DENGAN OPTIMIS

“MENJALANI HIDUP DENGAN OPTIMIS”

Oleh: Ali Nurdin

Saat kita menghadapi suatu persoalan hidup, respon yang bisa kita pilih ialah berikap optimis atau pesimis. Seorang muslim atau orang yang sedang belajar agama semestinya memilih sikap optimis dalam hidup. Sikap ini lahir dari keyakinan bahwa Allah SWT mengurus makhluk-Nya dengan sungguh-sungguh bukan dengan main-main. Ia berfirman:

أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَٰكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ

“Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (QS. Al-Mukminun [23]: 115)

Allah SWT menciptakan makhluk-Nya tidak dengan main-main. Pasti ada hikmah dan tujuan di setiap yang dilakukan-Nya.

Karena itu, menjalani hidup dengan optimis berarti mengerjakan sesuatu dengan serius, penuh perencanaan, dan tidak menganggap remeh pekerjaan kita. Segala sesuatu yang kita kerjakan tidak satupun yang luput dari perhatian-Nya, semuanya akan dibalas dengan setimpal. Semakin besar usaha yang dilakukan, semakin besar pula balasan yang diterima.

Siapa saja yang ingin berhasil itu rumusnya harus optimis dan bekerja dengan sungguh-sungguh. Setiap orang yang berhasil dalam hidupnya itu pasti dilalui dengan sikap optimis dan usaha sungguh-sungguh. Seperti pemain sepakbola dunia, Messi dan Ronaldo, mereka sungguh-sungguh ketika Latihan. Sehari menendang bola seribu kali, pola makan mereka benar-benar diatur sehingga badan mereka menjadi bagus.

Orang yang berprestasi dalam bidang apapun, pasti karena menjalani hidup dengan optimis dan bersungguh-sungguh. Jadi, siapapun yang iseng-iseng atau main-main maka tidak akan berhasil. Siapapun yang bersungguh-sungguh pasti Allah akan memberikan jalan keberhasilan. Itulah janji Allah dalam firman-Nya:

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik”. (QS. Al-Ankabut [29]: 69)

Kunci keberhasilan termasuk ibadah dan juga aspek sosial di masyarakat tentu dengan sikap optimis dan sungguh-sungguh. Sungguh-sungguh dalam urusan badan itu namanya jihad, bersungguh-sungguh dalam berpikir itu namanya ijtihad, dan bersungguh-sungguh dalam urusan hati itu namanya mujahadah. Karena itu, mencapai keberhasilan itu bisa diraih dengan kerja fisik, pikiran, dan spiritual.

 

Komentar ditutup, tapi trackbacks dan pingback terbuka.