4 UKURAN KEBERUNTUNGAN

4 UKURAN KEBERUNTUNGAN

4 UKURAN KEBERUNTUNGAN

Oleh: KH. Dr. Ali Nurdin, MA

Ciri orang yang mendapat kebahagiaan adalah orang yang beruntung. Menjadi orang yang beruntung tentu tidak diraih dengan jalan yang mudah. Ada usaha yang harus dibayar. Ada waktu yang harus dikorbankan. Setidaknya ada empat ukuran orang yang akan mendapat keberuntungan.

Pertama, orang yang beruntung ialah orang yang beriman. Ibarat orang masuk perguruan tinggi, jika ingin mendapatkan ijazah maka harus melakukan registrasi di kampus yang diinginkan. Jika ingin beruntung menjadi manusia maka harus ada iman dalam hati, iman kepada Allah sebagai pencipta, dan percaya pada rukun iman yang lainnya.

Allah berfirman dalam Al-Qur’an:

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ

“Sungguh beruntunglah orang-orang yang beriman”. (QS. Al-Mu’minun [23]: 1).

Dalam Al-Qur’an ada 2 (dua) istilah yang menggambarkan orang yang beriman; ada ungkapan al-muminuun dan alladziina aamanuu. Ungkapan Al-muminun memiliki arti yang lebih tinggi kualitas imannya dari istilah yang kedua. Ungkapan orang beriman dengan istilah pertama bermakna orang yang beriman dengan keimanan yang sudah mantap, keimanan yang sudah menyatu dengan jiwa. Sehingga makna ayat di atas ialah “Beruntunglah orang-orang yang beriman dengan keimanan yang mantap, keimanan yang sudah menyatu dengan jiwa.”

Sedangkan ungkapan alladziina aamanuu bermakna orang yang beriman dengan keimanan yang terkadang naik dan turun, keimanan yang belum stabil.

 Baca juga: CIRI ORANG MENDAPAT KENIKMATAN ABADI

Kedua, orang beruntung ialah yang selalu berusaha untuk mengingat Allah. Ini ditegaskan dalam firman-Nya:

 

فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung. (QS. Al-Jum’ah [62]: 62).

Orang yang senantiasa mengingat Allah akan terhindar dari keinginan untuk melakukan maksiat. Walaupun, misalnya, tetap ada keinginan bermaksiat maka ia akan segera istighfar dan mengurungkan serta mengubur dalam-dalam keinginan itu. Lisan dan hati yang diliputi dengan dzikir akan senantiasa mendapat ketenangan dalam hidupnya sehingga ia akan meraih keberuntungan.

Ketiga, Orang yang bertaubat. Keberuntungan akan diperoleh oleh orang yang berbuat dosa kemudian diiringi penyesalan dan taubat kepada Allah serta tidak mengulanginya kembali. Allah berfirman di penggalan terakhir ayat 31 surah an-Nur berikut:

 

وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (QS. An-Nur [24]: 31).

Dalam penggalan ayat di atas, Allah memerintahkan kepada orang yang beriman untuk bertaubat agar mendapat keberuntungan. Orang yang diperintah bertaubat tentu adalah orang yang berbuat dosa. Namun, dalam ayat ini Allah menggunakan panggilan kepada orang yang beriman sebagai indikasi bahwa orang yang beriman berpotensi untuk berbuat dosa, dan jalan keluar dari dosa adalah dengan cara bertaubat.

Cara paling mudah bertaubat agar diterima adalah dengan mengganti perbuatan buruk dengan perbuatan baik atau memperbanyak amal shaleh. Jika taubat kita sungguh-sungguh dan berkomitmen untuk tidak mengulangi kembali maka keberuntungan yang menanti kita.

 

Keempat, jangan jadi orang yang pelit. Orang yang tidak pelit secara khusus disebutkan oleh Allah sebagai orang yang beruntung. Lihat, misalnya,  dalam firman-Nya:

فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَاسْمَعُوا وَأَطِيعُوا وَأَنْفِقُوا خَيْرًا لِأَنْفُسِكُمْ ۗ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu. Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung”. (QS. At-Taghabun [64]: 16).

Siapapun yang tidak pelit, senang bersedekah, berbagi kepada orang lain maka Allah jamin ia akan beruntung. Bahkan, orang non-muslim sekalipun yang tidak pelit akan beruntung, tentu dalam keyakinan kita (orang Islam), keberuntungannya hanya di dunia. Sementara bagi kita yang beragama Islam, keberuntungan itu bisa di dunia sekaligus juga di akhirat. Orang yang pelit hakekatnya pelit kepada diri sendiri, seperti ditegaskan dalam firman-Nya:

وَمَنْ يَبْخَلْ فَإِنَّمَا يَبْخَلُ عَنْ نَفْسِهِ

 “Siapa yang kikir sesungguhnya dia hanyalah kikir terhadap dirinya sendiri.” (QS. Muhammad [47]: 38).

Komentar ditutup, tapi trackbacks dan pingback terbuka.