‘IDUL ADHA DAN SOLIDARITAS SOSIAL

‘IDUL ADHA DAN SOLIDARITAS SOSIAL

‘IDUL ADHA DAN SOLIDARITAS SOSIAL

(Khutbah ‘Idul Adha)

Oleh: Dr. Ali Nurdin, MA

  9xالله اكبر

الله اكبر كبيرا والحمدلله كثيرا وسبحان لله بكرة واصيلا

الحمدلله نحمده ونستعينه  ونستغفره  ونعوذ بالله   من شرور أنفسنا ومن سيأت  أعمالنا

اشهد ان لا اله الا الله وحده لاشريك له واشهد ان محمدا عبده ورسوله

اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد وعلى اله وصحبه اجمعين اما بعد

فيا ايها الحاضرون اوصيكم ونفسى بتقوى الله

وقال تعالى  لن ينال الله لحومها ولا دماءها ولكن يناله التقوى منكم …

Kaum Muslimin yang berbahagia

Mungkin di antara kita ada yang bertanya, kenapa ‘Idul Adha kita rayakan, dan apa arti penting yang terkandung di dalamnya. Bagi saudara-saudara kita yang sedang menunaikan ibadah haji, adalah sudah jelas. Namun bagi kita di sini bisa timbul pertanyaan. Kenapa kita harus merayakan ‘Idul Adha ?

Pertanyaan seperti itu rasanya wajar, perayaan ‘Idul Adha seolah datang secara tiba-tiba, tanpa ada urutan kejadian sebelumnya. Kalau ‘Idul Fitri, tentu saja sangat jelas prosesnya. Didahului dengan ibadah puasa dan sebagai tanda berakhirnya ibadah puasa, maka kita ber’idul Fitri. Tetapi bagaimana dengan ‘Idul Adha ?

Sedikitnya ada tiga arti penting yang dapat kita renungkan dalam kesempatan merayakan ‘Idul Adha sekarang ini.

Pertama, “Idul Adha juga sering disebut dengan hari raya Qurban. Penamaan Hari raya Qurban ini terkait erat dengan peristiwa yang dialami oleh Nabi Ibrahim a.s. beserta anaknya, sebagaimana digambarkan dalam al-Qur’an; Ashshaffat, 102

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ ٱلسَّعۡيَ قَالَ يَٰبُنَيَّ إِنِّيٓ أَرَىٰ فِي ٱلۡمَنَامِ أَنِّيٓ أَذۡبَحُكَ فَٱنظُرۡ مَاذَا تَرَىٰۚ قَالَ يَٰٓأَبَتِ ٱفۡعَلۡ مَا تُؤۡمَرُۖ سَتَجِدُنِيٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّٰبِرِينَ ١٠٢

Maka tatkala anak itu (Ismail) telah sampai usianya, berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi, bahwa aku menyembelihmu, maka fikirkanlah apa pendapatmu” ? Ia menjawab: “Wahai ayahku kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, Insya Allah ayahanda akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.

Allâh Akbar 3 x wa lillâhi al-hamd

Kaum Muslimin yang berbahagia

Dari peristiwa yang sangat dramatis itu, nampak jelas sekali bagaimana kecintaan Ibrahim a.s kepada Allah SWT telah begitu total. Bagaimana tidak, kalau kita renungkan secara mendalam peristiwa tersebut jelas sekali tidak masuk akal. Seorang ayah yang telah bertahun-tahun mengaharapkan kehadiran seorang anak, dan kemudian mendapatkannya seorang anak yang shalih, namun tiba-tiba datang perintah untuk menyembelihnya. Perintah yang tidak rasional sama sekali bagi kita.

Namun Ibrahim a.s melaksanakan perintah tersebut dengan segala kepatuhan dan kepasrahannya. Hikmah apa yang dapat kita petik dari peristiwa ini?

Sesungguhnya harta-hartamu  dan anak-anakmu adalah ujian bagimu.

Disadari atau tidak, harta dan anak-anak yang kita miliki adalah ujian bagi kita. Dan Ibrahim a.s telah telah berhasil melewati ujian tersebut. Meskipun dia begitu mencintai putranya, namun Allah lah yang tetap paling dicintai. Allah lah segala-galanya. Dalam pandangannya, dalam kehidupan ini tidak ada yang utama, tidak ada yang penting kecuali Allah. Jangankan hanya putranya, kalau perlu dirinya sendiri kalau memang Allah memintanya tentu akan diserahkannya. Anak-anak kita, harta kita bahkan diri kita sendiri bukan milik kita melainkan kepunyaan Allah. Kalau sewaktu-waktu Allah memanggil kita maka kita tidak bisa  mengelak sekali. Mau atau tidak mau suka atau tidak suka kita harus memenuhi panggilan tersebut.

Allah akbar 3x

Sebagai muslim sudah sepantasnya kalau kita berusaha untuk meniru  kepasrahan Ibrahim a.s. Minimal lima kali ikrar tersebut kita sampaikan di hadapan Allah

ان صلاتى ونسكى ومحياي ومماتى لله رب العالمين

Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah milik Allah.

Dengan kata lain, kalau kita berpegang teguh kepada ikrar kita tersebut, maka tidak wajar kalau kita mengabdi atau bergantung kepada hal-hal selain Allah, tidak pantas apa bila kita pesimis menghadapi permasalahan hidup, kita harus tetap berbesar hati betapa pun berat keadaan yang kita hadapi. Hanya Allah lah tempat kita memasrahkan segala persoalan kita, hanya kepada Allah lah tumpuan kerinduan dan kecintaan kita, hanya kepada Allah lah nantinya kita akan kembali.

Salah satu upaya kita untuk mendekatkan diri kepada Allah, disyariatkan kepada kita untuk berkorban. bagaimana hakikat qurban dalam agama kita ?

Kurban dalam agama kita adalah sebagai ungkapan rasa terima kasih kita sebagai manusia, sang makhluk kepada Allah khaliq kita, atas segala karunia yang telah dicurahkan kepada kita.

Ibadah kurban juga mengajarkan kepada kita, untuk senantiasa mencintai saudara-saudara kita yang dirundung kemiskinan. Kalau pada akhir bulan ramadhan kita diperintahkan membayar zakat fitrah sebagai bukti kecintaan kita kepada fakir miskin, maka dengan perintah berkurban lagi-lagi kita diperintahkan untuk membuktikan kecintaan kita kepada saudara-saudara kita yang masih terpuruk dalam kemiskinan.

Kecintaan itu seharusnya bukan ditunjukkan pada hari raya saja, melainkan juga pada hari-hari dan bulan lainnya sepanjang tahun. Jadi dalam agama kita, hewan qurban tersebut sama sekali tidak ada hubungannya dengan Allah, tetapi ketaqwaan kita lah yang akan sampai ke haribaan Allah SWT.

لَن يَنَالَ ٱللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَآؤُهَا وَلَٰكِن يَنَالُهُ ٱلتَّقۡوَىٰ مِنكُمۡۚ كَذَٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمۡ لِتُكَبِّرُواْ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَىٰكُمۡۗ وَبَشِّرِ ٱلۡمُحۡسِنِينَ ٣٧

Artinya: Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi Ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik. (QS. Al-Hajj [22]: 37)

Bagi Allah darah dan daging hewan kurban itu tidak ada artinya sama sekali, namun ketaqwaan, kecintaan dan komitmen kita kepada fakir miskin itulah yang akan mendekatkan diri kita kepada Allah SWT.

Kedua, Arti penting dari Idhul Adha adalah berkaitan dengan al-Qur’an. Menurut sebagian ulama ayat terakhir al-Qur’an turun ketika Rasulullah SAW melaksanakan haji wada’, ayat tersebut adalah

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

Pada hari itu telah kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah kucukupkan  ni’mat-KU kepadamu dan Aku telah ridha Islam menjadi agamamu. (QS. Al-Maidah [5]: 3)

Kalau pada ‘Idul Fitri berkaitan dengan nuzul al-Qur’an, ayat pertama turun, maka ‘Idul Adha adalah turunnya ayat terakhir dari al-Qur’an. Jelas sekali kedua hari raya itu berkaitan erat sekali dengan kehadiran al-Qur’an.

Sebagai seorang muslim banyak diantara kita yang sering lupa, bahwa kita memiliki buku panduan hidup yang lengkap dan sempurna yaitu Al-Qur’an. Kalau kita sanggup untuk mengerahkan segala kemampuan untuk mempelajari yang lain, seberapakah kesungguhan kita untuk mempelajari Al-Qur’an. Inilah buku petunjuk untuk meraih kebahagiaan hidup dunia akhirat yang tidak ada keraguan di dalamnya. Yang mengikuti petunjukanya pasti akan bahagia dan yang mengabaikannya pasti akan dirundung kerugian.

Sekedar menyebut contoh, betapa kebanyakan orang yang hidup di era modern mengalami apa yang disebut kekeringan spiritual, sehingga berakibat kepada kegelisahan hati. Betapa mewahnya untuk memperoleh ketentraman. Bagaimana jawaban Al-Qur’an? Surat ar-Ra’d ayat 28;

ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَتَطۡمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكۡرِ ٱللَّهِۗ أَلَا بِذِكۡرِ ٱللَّهِ تَطۡمَئِنُّ ٱلۡقُلُوبُ ٢٨

Artinya: (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.

Mungkin ada yang bertanya saya sudah mengingat Allah mengapa hati belum tentram? Jawabannya pasti ada yang kurang tepat dalam cara mengingat Allah. Dan itulah arti pentingnya mengapa seorang muslim harus terus berusaha menambah ilmu, bahkan Nabi kita pun tidak pernah berhenti untuk berdoa Robbi Zidni ‘Ilma (Tuhan tambahkan ilmu kepadaku). Yaitu ilmu yang sanggup menjadikan diri kita meraih hidup yang lebih bermakna.

Ketiga, Arti ketiga dari ‘Idul Adha berkaitan dengan semangat persamaaan. Hal ini terutama disimbolkan dengan pelaksanaan ibadah Haji. Diawali dengan niat, dengan memakai pakai ihram yang sangat sederhana berwarna sama-sama  putih. Hal ini mengandung makna bahwa di hadapan Allah SWT tidak ada pejabat/rakyat, sikaya/simiskin, orang kota/orang desa, semua datang untuk memenuhi pangilan Allah SWT. Begitulah sebenarnya gambaran pada hari mahsyar, dalam pengadilan Allah manusia itu sama,  tidak ada sama sekali yang kebal terhadap hukum, yang membedakan hanyalah kadar ketaqwaannya.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقۡنَٰكُم مِّن ذَكَرٖ وَأُنثَىٰ وَجَعَلۡنَٰكُمۡ شُعُوبٗا وَقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوٓاْۚ إِنَّ أَكۡرَمَكُمۡ عِندَ ٱللَّهِ أَتۡقَىٰكُمۡۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٞ ١٣

Artinya ; Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS. Al-Hujurah [49]: 13)

Kedua, Ka’bah yang dikunjungi, mengandung pelajaran yang amat berharga. Di sana misalnya, ada Hijr Isma’il yang arrti harfiahnya adalah “pangkuan Isma’il”. Di sanalah Isma’il pernah berada dalam pangkuan ibunya yang bernama Hajar, seorang wanita hitam, miskin bahkan dari klas budak. Namun demikian wanita ini memperoleh kedudukan yang istimewa terutama di hadapan Allah SWT karena kepasrahana dan ketaqwaannya.

Keyakinan wanita ini akan kepasrahan kemaha-kuasaan Allah begitu kokoh. Hal ini diperagakan dalam pencarian air untuk putranya. Hajar memulai usahanya dari bukit shafa yang arti harfiahnya adalah kesucian dan ketegaran. Sebagai lambang bahwa untuk mencapai keberhasilan dan kesuksesan hidup harus dimulai dengan kesucian dan sikap yang tegar. Dan pencarian itu diakhiri di tempat yang bernama Marwa yang berarti “ideal manusia”.  Itulah yang dilambangkan dengan ibadah Sa’i oleh orang-orang yang melakukan ibadah haji. Dan itulah rahasia sukses: lakukan yang terbaik apapun posisi kita (do the best), serahkanlah hasil akhirnya kepada Allah kemudian terimalah dengan penuh keikhlasan maka Allah pasti akan memberi yang terbaik dari arah yang mungkin tidak menduga-duga.

Kalau thawaf menggambarkan larut dan meleburnya manusia dalam hadirat Allah (al Fana’ Fillah), maka sa’i menggambarkan  usaha manusia mencari dan mempertahankan kehidupan, yang dilakukan begitu selesai thawaf. Hal ini melambangkan bahwa kehidupan dunia dan akhirat merupakan satu kesatuan dan keterpaduan.

Dengan thawaf disadarilah tujuan hidup manusia, dan setelah kesadaran itu ada, dimulailah sa’i, yang menggambarkan bahwa tugas manusia adalah berusaha semaksimal mungkin dengan segala kegigihannya.

Allhu Akbar 3x walillahilhamd.

Puncak ibadah haji adalah wukuf di ‘Arafah,  Di sanalah seharusnya manusia bisa menemukan ma’rifah, pengetahuan sejati tentang jati dirinya, akhir perjalanan hidupnya serta di sana pula seharusnya ia menyadari betapa besar dan agungnya -Nya Allah SWT yang kepada-Nya bersembah seluruh makhluk.

Dan lebih dari segalanya adalah bahwa Allah SWT begitu sayang kepada manusia. Seseorang yang menyadari bahwa Allah begitu sayang maka hikmahnya adalah tidak akan mudah menyerah ketika mendapat kesulitan dan tidak berbangga diri kalau mendapat kenikmatan.

Kaum muslimin yang berbahagia,

Akhirnya pada hari yang mulia ini, sambil memanjatkan takbir dan tahmid kita menundukkan kepala,memohon kepada Allah dengan khusyu’, semoga Allah SWT senantiasa membimbing setiap langkah kita. Amin

 

Komentar ditutup, tapi trackbacks dan pingback terbuka.